#1 Fotour - Hari I : Bandara Minangkabau - Maninjau - Bukittinggi - Lembah Harau - Bukittinggi - eddywustory.com

Musik - Otomotif - Fotografi - Teknologi - Kuliner

#1 Fotour - Hari I : Bandara Minangkabau - Maninjau - Bukittinggi - Lembah Harau - Bukittinggi

#1 Fotour - Hari I : Bandara Minangkabau - Maninjau - Bukittinggi - Lembah Harau - Bukittinggi

Share This
Tepat hari Sabtu, pagi buta kami sudah bersiap untuk menuju bandara Internasional Soekarto Hatta untuk bertolak menuju Bumi Minang di Sumatra Barat, tepatnya menuju Kota Padang. Perjalanan yang sudah kami rencanankan dari 2 minggu sebelumnya sebagai pemanasan untuk Food Touring keliling Jawa pada bulan Juni nanti.




Kami akan menyewa motor dari kota Padang dan akan diantar ke Bandara, jam 8 kami mendarat dipadang dan langsung menghubungi bang Tomi, yang merupakan seorang yang hangat dan yang akan menyewakan motor kepada kami. Kami bertemu dan akhirnya berjalan bersama ke Parkiran dan ketika melihat motornya, masih belum ada plat nomor dan Jarak tempuh baru 521 KM. Benar-benar masih motor baru. Bang Tomi menyakinkan bahwa aman tanpa plat karena di Sumatra Barat ini untuk mendapatkan STNK dan plat nomor harus menunggu kurang lebih 6 Bulan, bahkan ada yang sampai 2 tahun belum menerimanya.


Beat yang kami gunakan, tanpa plat nomor


Motor yang kami gunakan adalah Honda Beat ESP keluaran tahun 2018, masih sangat gress dan nanti akan saya beritahu berapa bensin yang terpakai selama berkeliling sejauh kurang lebih 450 KM. Memang secara tenaga motor ini kurang untuk menanjak dikawasan Bukittinggi dan Maninjau, tapi soal kehematan jangan ditanya.

Skip-skip, setelah administrasi selesai dan membayar seharga Rp. 85 ribu/hari + ongkos antar jemput bandara Rp. 80 ribu. Kamipun mengarah keluar Bandara dan langsung menuju Danau Maninjau. Sempat berhenti di SPBU untuk mengisi Pertamax seharga Rp.25 Ribu dan perjalanan dilanjutkan.
Bisa dikatakan, kualitas jalan di Sumatra Barat ini sangat baik karena jalanan mulus dan sangat enak untuk dilalui. sekitar jam 10 an kami sampai ke puncak lawang dimana dari puncak ini bisa melihat danau Maninjau dari ketinggian. Pemandangan dari sini sebenarnya bagus, tapi sayang ketika kami sampai disini mendung dan langit yang seharusnya biru tertutup awan, Indikator Bensin baru menunjukkan setengah yang terpakai, artinya perjalanan sepanjang 110 KM Dari Bandara Minangkabau - Puncak Lawang - Bukittinggi hanya terpakai setengah dari tangki bensin Beat yang kalau full tank sekitar 3.7 Liter dan itu sangat irit buanget.

Kami tidak begitu lama disini karena kami ingin mengejar untuk menginap di Lembah Harau yang terletak sudah mendekati Riau.

Pemandangan di Puncak Lawang, Maninjau

Tujuan kami selanjutnya adalah Bukittinggi, sebuah kota yang terkenal dengan Jam Gadangnya. perjalanan dari Maninjau ke Bukittinggi kami menggunakan jalan potong yang tembus ke Ngarai Sianok. Sepanjang jalan akan disuguhi pemandangan pegunungan yang sangat indah dan motor hanya saya pacu dikecepatan hanya 40 kpj karena ingin menikmati pemandangan.
Jam 12 pas kami tiba di Ngarai Sianok dan kesempatan untuk mencicipi Itiak Lado Mudo Ngarai yang terkenal tentu tidak akan kami lewatkan. Kami pun mampir di rumah makan yang pas berada di tikungan ini dan memesan Itiak Lado Mudo yang terkenal. Disajikan dengan Sambal Hijau dan ditemani Perkedel dan Cincang. Memang soal rasa ini enak, tapi jangan tertipu dengan Sambal Hijaunya, menurut kami ini tidak pedas, tapi enak. Harganya Rp.35 Ribu per porsi untuk Itiaknya.

Itiak Lado Mudo Ngarai

Teman Makan si Itiak

Perut terisi penuh dan perjalanan dilanjutkan menuju Kota Bukittinggi dan kami hanya melintas karena akan mampir ketika esok hari kembali ke Padang.

Motoran disini benar-benar mengasikkan, tanpa terasa kami sudah sampai di pertigaan yang menuju lembah Harau dan ternyata Muacet buanget. Karena ini adalah hari sabtu, jadi Lembah Harau selalu penuh. Salah memilih hari sepertinya. mau tidak mau macet kami lalui dan akhirnya sampai juga di Roemah Abdoe dan bertemu dengan ibu devi. Orangnya ramah dan sangat bersahabat. Tapi karena ada suatu dan lain hal kami tidak jadi menginap di Lembah Harau dan kembali ke Bukittinggi. Sampai kembali di Bukittinggi sekitar jam 7 malam. o iya, untuk yang ingin menginap di Bukittinggi, wajib membawa akte nikah/buku nikah, karena pasti akan di tanyakan.

Roemah Abdoe Lembah Harau

Malamnya kami berjalan kaki dari Hotel menuju Maskot kota Bukittinggi yaitu Jam Gadang. tidak begitu jauh dari hotel hanya sekitar 1 km saja tapi jalanan yang mendaki dan menurun cukup buat ngos-ngosan juga.

Jam Gadang pada malam ini cukup ramai karena malam minggu dan banyak yang menjajakan makanan, kami berkeliling mencari makanan akhirnya diputuskan mencoba Sate Padang di pinggir jalan. Sate Padang disini tidak banya menyediakan Daging, tapi ada juga usus, hati dan lain-lain. Rasa bumbunya juga berbeda daripada yang biasa dimakan di Jabodetabek. Yang enak disini adalah Kerupuk kulitnya yang enak banget, benar kata orang Kerupuk Kulit di Bukittinggi sangat nikmat.

Sate Padang Daging dan Hati
Ikon Bukittinggi


Puas Makan Sate, kamipun mencari makanan lain karena masih lapar, hehehe. Sambil berjalan ke arah jembatan Limpapeh kami melihat ada Mie Aceh yang ramai sekali, dan tentunya tertarik. Kami membeli 2 bungkus Mie Aceh. Mie nya enak dan rasanya unik khas sekali. Nama tempat makannya adalah Mie Aceh Baroena.


Mie Aceh Baroena


Akhirnya kami kembali ke hotel dan ingin beristirahat karena besok akan melanjutkan lagi perjalanan menuju Singkarak, Solok dan kembali ke Kota Padang. Sampai kami sampai di Hotel di Bukittinggi, indikator bensin si Beat hanya turun 1 strip dan itu sudah digunakan PP Bukittinggi- Harau - Bukittinggi dan sudah terjebak macet di Harau.

Bukittinggi di pagi hari

Sudah kepanjangan sepertinya. apabila saya menulis semua pengalaman perjalanan ini, tidak akan cukup dalam 1 artikel. Tetap kunjungi Blog ini untuk update perjalanan selanjutnya

No comments:

Post a Comment

Pages